Pra Bienalle Seni Rupa Sumatera

Oleh Dewan Kurator
Jumat, 25 Nopember 2011 11:57:42 Klik: 3154 Cetak: 19 Kirim-kirim Print version download versi msword

 

Ketika Prabiennale Sumatra 2011 dibuka, kalimat yang paling tepat untuk menyambut peristiwa budaya ini: kekuatan Sumatra! Artinya, karya-karya yang hadir di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatra Barat ini, “bukan karya asal” atas pilihan “lebay” kuratornya. Kerja kurator, telah menawarkan sebuah imej, bahwa keterpilihan karya dalam iven ini, berangkat dari pandangan dan argumentasi yang terukur dan objektif.  Dari sinilah kemudiannya bisa dipahami bahwa kelahiran dan kehadiran karya seni ke publik,  ada latar belakang pemikiran, maksud maupun tujuan yang mengandung nilai. Pencermatan demikian perlu dilakukan sebagai pertanggungjawaban secara kultural, sehingga hasil yang diberikan beraspek kultural dan filosofis.

 

Karya-karya pada Prabiennale Sumatra ini,  sesungguhnya memberi tafsiran akan nilai estetis sebagai bukan untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia akan keindahan semata. Akan tetapi, secara substansi, karya-karya yang tampak,  secara umum mempertegas seni hidup, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dengan nilai-nilai kebudayaannya sendiri, di mana setting sosio-kultural tempat seni itu hidup amat berpengaruh terhadap karya-karya yang dihasilkan. Realitas sosial dan budaya, dalam kaitan pemikiran dan iven ini, terlihat kental sebagai pijakan gagasan tematik, untuk membangun realitas baru dalam karya seni.

 

Dalam mengkurasi karya-karya yang dikirim ke Panitia Prabiennale Sumatera ini, merujuk pandangan Sumardjo (2000), maka nilai-nilai dalam karya seni secara garis besar dapat dilihat dari tiga aspek. Tiga aspek ini pula, jadi pertimbangan pengayaan dalam “membaca” dan mengapresiasi karya seni rupa Prabiennale Sumatra.  Pertama, nilai penampilan (appearance) atau nilai wujud atau bentuk yang melekat pada karya seni yang dapat dicermati secara visual. Nilai ini lebih menekankan pada nilai estetis. Kedua, nilai isi (content) yang dapat berupa nilai-nilai ilmu pengetahaun (kognisi), nilai rasa, intuisi, idea atau gagasan, nilai pesan berupa nilai-nilai hidup manusia seperti nilai-nilai moral dan etika, nilai sosial dan budaya, nilai-nilai keagamaan, nilai-nilai tradisi maupun modernitas, kecantikan dan sebagainya. Nilai ini lebih menekankan pada nilai pesan (massage) yang dikomunikasikan kepada audien dan sekaligus merupakan refleksi, kontemplasi dan sikap prilaku seninya terhadap nilai yang tengah berkembang di masyarakat.

Dalam konetks berkarya, hal ini akan terlihat dari tema-tema yang diusung pelaku seni ke dalam karya-karyanya. Ketiga nilai pengungkapan (presentation) yang dapat menunjukkan nilai talenta dan kemampuan seorang pelaku seni dalam berolah seni yang digelutinya. Nilai ini lebih menekankan pada nilai kemahiran, kemampuan dan penguasaan teknis, gaya pribadi, kreatifitas serta medium yang dipergunakan. Ketiga aspek tersebut menyatu dalam sebuah karya seni dan bukan merupakan hal yang terpisah.

 

Membicarakan Prabeiennale Sumatera, tentu sama halnya, membicarakan potensi seni rupa Sumatera. Sebagai sebuah potensi, ada kekuatan dari berbagai kota/daerah di beberapa provinsi wilayah Sumatera dalam even sepenting ini. Kekuatan teknik dengan kebaruan gagasannya, walau secara spesifik belum menampakkan, namun secara umum ada upaya-upaya membangun orisinalitas dari  kehidupan sehari-hari, dari sosio kultural masyarakat Indonesia hari ini. Tema-tema yang diangkat dalam karya-karya seni Prabiennale Sumatera ini, gambaran dari serapan imaji dan pengetahuan serta pengalaman estetik yang dimiliki perupa, sehingga ketika dicermati dalam kerangka pemaknaan, kita melihat realitas kehidupan dalam artian yang luas. Ternyata, karya seni ketika menjabarkan persoalan sosial, budaya, politik dan kehidupan tradisional dan modern, ia justru melahirkan pikiran dan tafsir baru sebuah karya.

 

Namun, ketika orisinalitas menjadi salah satu keterwakilan kreativitas misalnya, ketika itu, Prabiennale ini adalah semacam pintu masuk untuk berada di ruang yang lebih luas dan bergengsi. Masing-masing perupa, dengan “bahasa ucapnya” pada karya, baik itu dua dimensi maupun tiga dimensi, akan menyiratkan sebuah kekuatan dari latar belakang social dan budayanya. Inilah yang kemudian syarat keberagaman, menghindar dari jejak langkah klise pendahulunya dalam wilayah gagasan dan kreativitas, sehingga kemudiannya utuh menjadi pondasi seni rupa Sumatera sebagai bagian penting seni rupa nasional atau Indonesia.

 

Sebagai sebuah fenomena budaya, aktifitas kesenian, kelahiran dan kehadiran karya seni ke depan publik tidaklah lahir begitu saja tanpa ada latar belakang pemikiran, maksud maupun tujuan yang mengandung nilai. Selalu ada yang menyebabkan sesuatu itu menjadi ada. Sebuah karya seni dapat saja diciptakan dan lahir demi nilai estetis semata untuk memenuhi tuntutan kebutuhan manusia akan keindahan. Akan tetapi, seni hidup, tumbuh dan berkembang di tengah masyarakat dengan nilai-nilai kebudayaannya sendiri, di mana setting sosio-kultural tempat seni itu hidup amat berpengaruh terhadap karya-karya yang dihasilkan.

 

Oleh karena itu, setiap karya yang diciptakan oleh pelaku seni tidak serta merta hanya berorientasi nilai estetis semata, tetapi juga akan mengangkat, membawa, mengolah dan pada akhirnya juga akan mencerminkan seperangkat nilai-nilai kebudayaan dan pandangannya sendiri terhadap nilai-nilai yang telah ada, maupun sikapnya terhadap pergeseran nilai-nilai karena munculnya nilai-nilai baru yang telah mulai hidup dan berkembang di tengah masyarakatnya sendiri, baik dalam pengertian masyarakat umum maupun masyarakat komunitas seninya.

 

Nilai-nilai(values) merupakan prinsip-prinsip yang dianggap baik dan menjadi pedoman pilihan bagi manusia dalam hidup bermasyarakat. Nilai-nilai tersebut berada dalam suatu sistem nilai budaya yang terdiri dari konsepsi-konsepsi yang hidup dalam alam pikiran masyarakat mengenai kehidupan (Keesing:1981 dan koentjaraningrat:1987). Dengan demikian, melalui karya seni dapat dijumput sejumlah nilai-nilai yang melingkupi hidup dan kehidupan manusia sebagai makhluk sosial yang berbudaya, di mana pelaku seni berada didalamnya. Pelaku seni dapat melihat, mengamati, mempelajari, mengalami, memahami, menghayati, berfkir, bersikap, berperilaku tentang/terhadap alam dan lingkungan sosio-kultural mereka sendiri maupun yang di luar diri mereka. Dengan kata lain, keberadaan dan kemunculan karya seni   tidak terlepas dari sejauh mana pelaku seni mampu membentuk diri dengan memiliki pengetahuan dan pemahaman yang mendalam (verstehen) terhadap dunia mereka sendiri  dan yang di luar diri mereka sebagai sebuah pengetahuan budaya, serta bagaimana pelaku seni bersikap dan berperilaku sesuai dengan dunia mereka sebagai perilaku budaya untuk melahirkan karya-karya yang tidak saja bernilai (estetis) tetapi juga mampu mengusung berbagai nilai-nilai kehidupan itu sendiri

 

Uraian sebelum ini pada intinya menyiratkan bahwa kelahiran sebuah karya seni adalah beralasan dan berorientasi pada nilai, baik itu nilai estetis maupun nilai pesan yang dibingkai oleh nilai kemampuan teknis, kreatifitas, gaya personal dan pilihan medium pelaku seninya ( dan sah-sah saja bila juga ada nilai ekonomis). Pada sisi lain, nilai pengetahuan budaya dan perilaku budaya dari pelaku seninya merupakan hal mendasar yang amat menentukan pantas atau atau tidaknya karya mereka untuk disebut sebagai benda (karya) budaya yang bernilai. Hal ini akan dipertanggungjawabkan pelaku seni ketika karya-karyanya digelar ke hadapan publik.

 

                                      PRA- BIENNALE SUMATERA

 

Setidaknya berangkat dari wawasan terpapar di atas sebagai acuan umum, pengkurasian juga melakukan penilaian dan pemaknaan objektif terjadap karya-karya yang masuk. Masing-masing kurator, dengan perspektif dan argumentasi subjektifnya, saling transfer hasil “pembacaan” dan “pencermatan” karya, yang kemudian saling menguatakan penilaian estetik, filosofis lalu sosio kultralnya. Dari sinilah, hadir hasil pengkurasian, yang setidaknya, dalam pertimbangan apresiatif, penilaiannya pun relatif objektif.

 

Prabiennale Sumatera, sebagai pendahuluan Biennale Sumatera, yang kini digelar di Galeri Seni Rupa Taman Budaya Sumatera Barat,  diharapkan perupa dari Sumatera mampu menjadi sisi penting mempertegas identitas Sumatera di tengah-tengah peta seni rupa nasional. Iven ini, tentu semacam pintu masuk untuk sampai pada ruang yang lebih bermakna dan menuntut tantangan estetika yang lebih besar, dan secara filosifis berangkat dari perenungan dan hasil pemikiran yang mendalam dan sepsifik, sehinga ia memancarkan orisinalistas kultural dalah wajah seni rupa. Di sinilah kelak, kita bisa berharap, menemukan identitas, sebagai sesuatu yang diperlukan menjadi patronase dari perkembangan seni rupa modern di Sumatera, dan menjadi bagian penting dalam denyut seni Rupa Indonesia.

 

Secara historis, kita barangkali perlu merujuk, muasal gagasan dan pemikiran dari iven penting ini. Sebagai sebuah catatan, bahwa kegiatan pameran seni rupa se-Sumatera yang diselenggarakan setiap tahunnya baik di Sumatera maupun diluar Sumatera sebenarnya telah lama berlangsung persisnya hampir 18 tahun lalu yang materinya juga disertai dialog para perupa antar daerah. Artinya, hal ini menunjukkan, adanya ruang untuk mempertegas citra seni rupa Sumatera dengan latar budaya yang kuat, dengan gagasan dan muatan nilai serta performa yang utuh sebagai produk budaya.

 

          Sekadar mengingat, kegiatan perdana dan kedua dilaksanakan tahun 1993 dan 1994 di Jambi bertajuk “Pameran Lukisan dan Dialog Perupa se-Sumatera” (PLDPS) kemudian berlanjut kegiatan ketiga di Riau (1995), keempat di Ancol-Jakarta (1997), kelima di Bengkulu (1998), keenam dan ketujuh di Lampung dan Galeri Nasional Jakarta (1999), kedelapan di Jambi (2000), kesembilan di Lampung (2004) kesepuluh di Jambi lagi (2007).

 

Dari catatan yang diperoleh, sejak kegiatan perdana tahun 1993 sampai 2007 meski ada tahun yang kosong dalam beberapa kegiatan PLDPS dikarenakan persoalan teknis dan hal-hal yang melingkarinya, namun sejak kegiatan awal hingga kini setidaknya telah sepuluh kali PLDPS berlangsung di Sumatera yang diikuti puluhan bahkan ratusan perupa yang berdomisi di Sumatera.  Dilihat dari subtansi kegiatannya, apa sesungguh yang ingin dituju serta sasaran apa yang akan dicapai melalui kegiatan PLDPS se-Sumatera tersebut? Berikut pertanyaan kita, seperti apa pula korelasinya dengan seni rupa secara nasional di tengah hingar bingarnya pembicaraan seni rupa moderen di tanah air saat ini? Ini pulalah persoalan berkesenian – khususnya seni rupa di Sumatera – yang hingga kini belum terjawab dengan pasti? Yang setidaknya dalam beberapa kali kegiatan terakhir diperoleh keterangan bahwa pameran bukan sekedar arena kangen-kangen atau dialog yang tidak berkesudahan tapi merupakan ajang kompetensi berseni rupa.

 

Dari rangkaian kegiatan sejak PLDPS digelar terdapat paradigma berkesenian – terutama seni rupa -- yang pada dasarnya ingin mengukuhkan identitas Sumatera di tengah-tengah peta seni rupa nasional. Tetapi persoalan mencari apalagi untuk sebuah identitas seni rupa Sumatera bukanlah sesuatu yang gampang diperoleh dan dimiliki, seperti yang juga terjadi dimana-mana diberbagai daerah di tanah air. Namun setidaknya dari beragam kegiatan maupun peristiwa seni rupa nasional yang selama ini digelar dibanyak tempat dan daerah, maka seniman seni rupa Sumatera senantiasa mengikutsertakan diri untuk ambil bagian di dalamnya.

 

Dari perspektif seni rupa moderen secara luas di tanah air, pengamat dan kurator seni rupa nasional, Mamannoor yang kerap memfasilitasi pameran dan dialog seni rupa se Sumatera pernah berpendapat, bahwa seni rupa Indonesia diakui telah mengalami fase-fase perubahan selama lebih dari satu abad silam. Maksud fase perubahan ketika istilah, makna serta paham moderen merasuk ke dalam pola pikir dan karya perupa Indonesia. Maka makna moderen setidaknya secara umum dapat ditafsirkan merujuk kepada kesebayaan dan kesezamanan.

 

Istilah moderen secara sederhana mudah ditebak dan diartikan sebagai yang terbaru dan mutakhir. Karena dalam terminologi moderen dalam rangkaian sejarah seni rupa apalagi dikaitkan dengan suatu periode sekitar tahun 1860 hingga 1970-an sering diidentikan untuk menjelaskan gaya, teknik serta ideologi seni yang dihasilkan dalam rentangan waktu periodesasi demi periodesasi.

 

Sesuai istilah seni rupa Moderen serta keberadaannya di Indonesia didalamnya diduga memiliki hal-hal khusus yang berbeda dengan seni rupa moderen sesungguhnya dari negeri asalnya seperti Eropa. Mengingat selama ini hal-hal khusus dimaksud seperti dijelaskan Sanento Yuliman, terdapat sejumlah pelukis di tanah air yang mencoba menggunakan unsur tradisi seni rupa daerah, tetapi tetap saja tak dapat dimasukkan kedalam kerangka kebudayaan daerah.

 

Fase-fase perubahan seni rupa moderen di Indonesia kemudian terus bergulir, bergerak dan berjalan secara bertahap selama lebih dari satu abad silam dan selama itu pula telah terjadi berbagai proses pengaruh dari seni rupa moderen barat atau mungkin saja dari belahan dunia lain di Asia pasifik. Dari banyak catatan literatur di Indonesia, seni rupa moderen telah berpuluh tahun berasimilasi dengan pola-pola perkembangan kehidupan manusia dari berbagai realitas kepentingan budaya, sosial, ekonomi bahkan teknologi dan komunikasi. Secara perlahan perubahan-perubahan cepat maupun lambat berlangsung dalam kerangka untuk mensejajarkan diri dengan makna kesebayaan dan kesezamanan dengan perkembangan dunia. Bahkan mungkin termasuk ketika wacana-wacana seni rupa dunia beranjak dari modern ke pascamodern dan fenomena mutakhir.

 

Perubahan-perubahan secara konseptif meliputi; ketajaman pikiran melalui sikap kritis terhadap lingkungan alam, sosial, dan budaya ; ketajaman citra melalui gambaran-gambaran tentang keberagaman (pluralitas) budaya masyarakat di Sumatra; dan ketajaman harapan para berupa dalam hal mencermati, mencerdasi dan mengharapkan representasi kehidupan keseharian di Sumatra di masa mendatang.

 

Karena itu dalam dua tahun terakhir adanya konsep perubahan-perubahan secara konseptif terus diprovokasi melalui pentingnya Biennale se-Sumatera yang di dahului Prabiennale Sumatera yang bertititik tolak dengan PLDPS sebagai bukti bahwa sebuah identitas memang diperlukan yang menjadi patronase dari perkembangan seni rupa moderen di Sumatera atau bagian dari peta seni rupa nasional, meski event ini juga bukan jaminan tampilnya identitas ke Sumatera-an.

 

Padang, Nopember 2011

Dewan Kuratror

 

Syafwan Ahmad

Muharyadi

Yusrizal KW

Hamzah

 

 

 

 

 
Berita Kuratorial Lainnya
. Koor Pentagona +
. Kritikus Seni Rupa Jembatan Masyarakat?
. Kesederhanaan yang Serius pada Lukisan Dwi Agustyono
. Menimbang Lukisan Konservasi Amrianis


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 2

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>         01 02 03
> 04 05 06 07 08 09 10
> 11 12 13 14 15 16 17
> 18 19 20 21 22 23 24
> 25 26 27 28 29 30 31



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012