Wakidi, Ngarai Sianok dan Kondisi Kekinian

Oleh Muharyadi
Rabu, 12 Juli 2006 12:08:55 Klik: 6365 Cetak: 380 Kirim-kirim Print version download versi msword
Membicarakan kepelukisan Wakidi (1889-1979) dan karya-karyanya memang tak akan habis-habisnya untuk didiskusikan, dibicarakan bahkan untuk diperdebatkan. Mengingat karya-karya tokoh “Mooi Indie” asal Semarang, Jawa Tengah, kelahiran Plaju Sumatera Selatan ini di era Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia) mendapat celaan yang luar biasa saat itu, salah satunya berasal dari tokoh Persagi, S. Soedjojono yang menyebutkan karya-karya Wakidi hanya sekedar tour de force teknis saja, tanpa isian yang berarti.

Artinya Wakidi hanya ingin mengabadikan keindahan alam Indonesia saja dan kurang tanggap terhadap terhadap kenyataan disekitarnya yang tidak semuanya indah, serba enak, tenang dan damai.

Namun demikian tidak semua pengamat, peminat seni lukis setuju akan pendapat S. Soedjojono, mengingat celaan tersebut lahir pada dasarnya disebabkan sentimen bumi putera terhadap jagad seni lukis kolonial. Pada sisi lain disebabkan menyangkut aspek artistik dimana seni lukis kolonial dianggap berada di belakang aliran-aliran lain saat itu yang dinilai lebih progresif, sarat mengandung citra moderenisasi.

Dibalik pro kontra kehadiran Wakidi di zamannya, kehadiran Wakidi dalam peta sejarah seni lukis di tanah air sebenarnya tidak dapat disingkirkan begitu saja, karena ia merupakan penggalan sejarah seni lukis moderen di Indonesia setelah era Raden Saleh Bustaman. Bahkan tak kurang dari pendapat pengamat seni lukis di tanah air seperti Agus Dermawan T, menyebutkan, bahwa karya-karya lukis di zaman Hindia Belanda termasuk Wakidi di dalamnya yang memulai dan menstimulasi lahirnya generasi S. Soedjojono, Hendra Gunawan, Affandi dan beberapa nama lain. Menurut Agus karya-karya era Mooi Indie apakah ia estetik atau non artistik layak disimak kembali, karena nyata ia adalah bagian dari sejarah seni lukis yang tercecer.

***

Menggali sejarah seni lukis Indonesia kebelakang, pada dasarnya kebanyakan para pelukis ternama di tanah air hidup menenatp di pulau Jawa, sebutlah misalnya seperti pelukis Rusli asal Medan, Sumatera Utara menghabiskan waktunya di Yogyakarta, Zaini dan Nashar dari Sumatera Barat bertualang di pulau Jawa, Henk Ngantung dari Sulawesi Utara, Lian Sahar, AD. Pirous dari Aceh dan banyak lagi.

Tidak demikian halnya Wakidi sendiri, putera asli Semarang, Jawa Tengah, kelahiran Plaju Sumatera Selatan ini ternyata lebih memilih tinggal di luar Jawa tepatnya di Sumatera Barat sendiri. Wakidi yang semasa kecilnya senang mereproduksi karya-karya Raden Saleh Bustaman melalui buku-buku, majalah atau foto-foto karya membuatnya makin akrab dengan dunia seni lukis, apalagi sejak ia memperoleh pendidikan di Kweekschool Bukittinggi yang kemudian juga menjadi guru di almamaternya itu.

Dalam catatan serjarah karya-karya lukisan Wakidi yang mengambil tema pemandangan alam Sumatera Barat telagh dimulai sejak pelukis ini menggali ilmu di Kweekschool Bukittinggi. Banyak lahir lukisan-lukisan pemandangan saat itu dengan khas Sumatera Barat diantaranya “Ngarai Sianok”, “Danau Maninjau”, “Rumah Bagonjong” dan pemandangan alam lainnya yang menggambarkan alam Sumatera Barat dengan suasana persawahan yang bertingkat, ladang, perbukitan dan lainnya.

Mula pertama kali karya-karya Wakidi dikenal luas oleh publik penikmat seni di Sumatera Barat, manakala pelukis ini untuk pertama kalinya memamerkan tidak kurang dari 15 karya tahun 1920 di Bukittinggi. Saat perang kemerdekaan berkecamuk di daerah ini Wakidi memilih menetap di INS kayutanam, pimpinan Mohammad Syafei.

Setelah kemerdekaan RI banyak tawaran yang datang kepada pelukis Wakidi, diantaranya dari Abu Hanifah sebagai Menteri Pendidikan dan Pengajaran yang menawari Wakidi menjadi kepala jawatan kebudayaan bahkan presiden RI pertama Soekarno pernah pula menawari Wakidi sebagai pelukis istana, semua ditolak secara halus dengan alasan banyak menyita waktunya untuk melukis.

***

Gambaran diatas merupakan ilustrasi ringan akan kepelukisan Wakidi di tanah air. Lalu bagaimana dengan karya-karya Wakidi sendiri yang banyak diperdebatkan di eranya bahkan hingga sekarang ? Banyak pengamat berkeyakinan pro dan kontra terhadap karya-karya Wakidi dianggap sesuatu yang lumrah dan wajar terjadi dalam konteks berkesenian.

Ditengah-tengah banyaknya celaan saat era Persagi dimana karya-karya Wakidi sebagai salah seorang tokoh era Mooi Indie dinilai sebagai suatu kemunduran dengan penyempitan kemampuan dan tema. Pada sisi lain segi positifnya pemunculan tema-tema pemandangan alam Indonesia masyarakat lebih dikenalkan apada sifat-sifat alam tanah air nan indah yang seyogyanya, dicintai dan dipelihara sebagaimana mestinya. Bahkan kepopuleran lukisan dengan tema “Ngarai Sianok” diantara banyak obyek pemandangan yang dilukis Wakidi bukan saja merambah tanah air bahkan sampai ke mancanegara. Di Obyek Ngarai Sianok ini pulalah Wakidi melukisnya secara ber

ulangkali dengan maksud ingin mencari kepuasan yang tak pernah henti disana. Ada fenomena menarik manakala kita menyimak karya-karya Wakidi secara lebih luas dan lebih dalam. Fenomena itu, diantaranya dalam melukis pemandangan Wakidi selalu berusaha memperhatikan bidang kanvas sesuai bentuk dan struktur obyek. Hal yang menarik Wakidi ternyata juga menghindari mengambil obyek dari tengah-tengah kanvas, pelukis ini lebih berkonsentrasi mengambil obyek pemandangan dari samping atau beberapa derjat obyek pemandangan alam lihat contoh ringan pada banyak tema “Ngarai Sianok” yang dilukisnya. Alasan Wakidi pun sederhana sekali, pengambilan obyek beberapa derjat dari samping kiri atau kanan dimaksudkan agar obyek lebih tampil menawan, indah dan memukau ditambah dengan warna-warna alam yang sesungguhnya saat suasana melukis ke alam.

Secara teknis kebiasaan Wakidi bekerja dipermukaan kanvas secara horizontal dengan membagi ruang kanvas menjadi tiga bagian adalah suatu kebiasaan yang diperolehnya dalam teknik menggambar zaman Belanda. Maksudnya supaya bidang kanvas terisi dengan komposisi seimbang yang kelihatan tampilan harmoninya.

Pada kebanyak tema pemandangan alam pelukis Wakidi memakai warna-warna lembut dengan menangkap kualitas cahaya yang kebanyakan diambil pada sore hari. Karakteristik lukisan Wakidi termasuk tema-tema Ngarai Sianok adalah pada struktur lukisan seperti pembagian bidang, komposisi, perspektif dan lainnya. Di kanvas tema-tema pemandangan alam, Wakidi selalu memberi kesan yang luas, seperti langit, gunung, hamparan sawah yang membentang diimbangi dengan permainan tarikan garisnya yang lembut. Hal yang terpanting tentulah Wakidi juga sangat selektif terhadap obyek pemandangan alam yang dilukisnya, artinya tidak semua pemandangan alam berada dalam kanvas-kanvasnya.

Dalam melukis pemandangan alam sebagaimana kebanyakan tema-tema lukisan Wakidi, pelukis ini menghindari mengambil obyek sebagai tiruan belaka, artinya sekedar tiruan alam semata. Akan hal ini pengamat seperti Soedarso, SP pernah pula berpendapat, bahwa apabila seni adalah sekedar tiruan alam, sudah tentu kalah baik dan kalah komplit dengan apa yang ditirunya, maka dengan demikian menjadi amat rendahlah martabat seni itu dan tidak ada gunanya, kata Soedarso SP.

Ciri-ciri yang menarik pada rata-rata lukisan Wakidi adalah adanya peralihan bayangan melalui warna-warna lembut yang harmonis. Merujuk akan hal ini kita juga menjadi teringat pada pendapat Leonardo Da Vinci (1452-1519) yang tertuang dalam karya tulisnya berjudul “Tratatto Della Pittura” (Treatise on Painting), menyebutkan, keindahan suatu lukisan lebih ditentukan oleh peralihan antara bagian yang gelap dan yang terang. Seorang pelukis haruslah dapat melihat dengan jeli bagaimana bayang-bayang itu menyatu dengan bagian cahaya yang menyebabkan timbulnya bayang-bayang.

***

Lalu bagaimana obyek pemandangan alam di Sumatera Barat saat ini, apalagi tema “Ngarai Sianok” yang sangat populer sampai ke mancanegara yang hingga kini tak habis-habisnya untuk digali dan disiasati.

Tentulah kita tidak serta merta dapat menafsirkannya dalam barisan sejarah seni lukis yang dirintis Wakidi dulu pada dokumen atau sumber sejarah kekinian, sekalipun dalam bentuk obyek “Ngarai Sianok” yang kini makin banyak dilukis kalangan muda sampai para remaja pun menggemari obyek “Ngarai Sianok” sebagai pilihan obyek kerja lukis-melukis. Bagaimanapun “Ngarai Sianok” bukanlah sebagai sumber sejarah yang mengilhami pelukis dikanvasnya sesuai ruang dan waktu.

Yang tersisa dari obyek “Ngarai Sianok” saat Wakidi melukisnya beberapa puluh tahun silam dan generasi sekarang pada obyek yang sama tentulah lebih didasari melalui sebuah presentasi yang dapat dimengerti, apa dan bagaimana sikap pelukis terhadap obyek pemandangan alam yang sangat menawan seperti “Ngarai Sianok”, barangkali inilah sebuah “tanda” yang mungkin dapat kita simak melalui perubahan sikap, prilaku seniman pada kondisi kekinian.

Dalam beberapa bulan terakhir saya berkunjung ke sejumlah kediaman pelukis di Sumatera Barat sekaitan keikutsertaan mereka mengahadapi 150 tahun seni lukis Sumatera Barat dengan tema “Ngarai Sianok” yang digelar UNP Padang dalam waktu dekat, tersirat bahwa rata-rata karya-karya pelukis saat ini yang mengambil tema “Ngarai Sianok” dengan berbagai kecendrungan melukis berusaha untuk tetap mempertontonkan sesuatu yang menakjubkan dari “Ngarai Sianok” yang tak pernah habis dan kering untuk digali, disiasati dipermukaan kanvas dengan beragam tampilan warna dan garis.

Ngarai Sianok benar-benar indah ditangan pelukis sekalipun tidak berada dalam kecendrungan naturalisme sebagaimana yang banyak dilukis Wakidi selama ini. ***

 
Berita Wawasan Seni Lainnya
. Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan
. Putusnya Rantai Sejarah Budaya
. Bentuk, Kreativitas dan Penjelajahan Kemungkinan
. Realis Minimalis Menjadi Trend Karya Pelukis Muda
. Typography-Pendahuluan
. Beowulf: Pahlawan Animasi Senyata Manusia Asli
. Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan
. Bernilainya Seni
. Seniman Antara Idealisme dan Pasar
. Pengertian Seni Secara Umum dan Sejarahnya


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 15

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>         01 02 03
> 04 05 06 07 08 09 10
> 11 12 13 14 15 16 17
> 18 19 20 21 22 23 24
> 25 26 27 28 29 30 31



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012