MENGUNGKAP SEJARAH SENYAP SENI RUPA SUMATERA BARAT

Oleh zulmi aryani
Kamis, 02 Maret 2006 17:36:32 Klik: 3646 Cetak: 76 Kirim-kirim Print version download versi msword

Diskusi yang dilaksanakan pada tanggal 01 Maret 2006 di Taman Budaya Sumbar dihadiri oleh pejabat pemerintahan daerah yaitu Kepala Dinas Parsenibud Prop. Sumbar,Dewan Kesenian Sumbar, kalangan akademisi dari seni rupa UNP, INS Kayu Tanam, SMK 4 (SMSR Padang), dan kalangan seniman/ti serta budayawan Sumbar. Pemakalah dalam diskusi ini adalah kurator pameran yaitu : Ady Rosa dan Suwarno Wisetrotomo dari dengan moderator Darman Munir. Sepenggal cacatan pelaku sejarah seni rupa Sumbar yang terpajang dalam karya-karya yang di pamerkan di Taman Budaya Sumatera Barat, yaitu pameran tunggal lukisan Syamsulbahar, sangat mengagumkan sekali. Karena dari lukisan beliau banyak bercerita tentang rasa kagum kepada sang pencipta, syukur yang mendalam dan dzikir yang terangkum dalam karya-karya beliau.

Pameran karya Syamsulbahar (1913-1994) terdiri dari 66 buah sketsa, 43 lukisan cat minyak, dan 10 lukisan cat air, merupakan kegiatan yang menarik untuk dicermati. Dapat dijadikan langkah awal untuk melakukan pembacaan dan pemaknaan terhadap peran, karya, waktu, peristiwa tentang tokoh Syamsulbahar, orang-orang sezaman, konstruksi soasial, politik, ekonomi, dan perubahan serta kesinambungannya. Melacak aspek tema yaitu kekaguman kepada kebesaran Allah yang menciptakan bentuk-bentuk alam yang menarik untuk dinikmati dan menjadikannya guru, seperti pepatah minang "alam terkembang menjadi guru"?, kecenderungan gaya yang pada masa itu adalah mooi indie dengan gaya naturalismenya, material yang pakai adalah tinta diatas kertas, cat air dan cat minyak. Nampak sekali kalau warna-warna yang ditampilakn adalah warna yang dibuat dengan bahan alamiah pada zamannya. Begitu juga dengan karya sketsa yang ditampilkan baik yang bercerita tentang keadaan pada masa itu, pemandangan alam dan juga yang tidak kalah menarik lagi yaitu karya beliau tentang "rambut-rambut siswaku"?. Konsep berkarya Syamsulbahar berkiblat kepada "bahasa Ibu"? yaitu Alam takambang jadi guru, seperti yang disampaikan kuratornya Ady Rosa, sebelum melukis Syamsulbahar melakukan pengamatan yang jeli, dimulai dengan sketsa hitam putih, kemudian sketsa berwarna, (cat air) baru terakhir dilanjutkan keatas kanvas.

Sumbar mempunyai orang-orang besar yang tercacat dalam sejarah Republik Indonesia, baik dalam bidang politik, kebudayaan atau kesenian, dari Syahrir, Mohammad Hatta, Wakidi, Oesman Efendi, Zaini, A.A. Navis dsb. Kita perlu berbangga dengan apa yang telah dirintis oleh pendahulu kita. Tapi apakah kebanggaan yang telah membuat negeri kita harum cukup untuk meneruskan perjuangan dan cita-cita mereka? Jawabannya adalah tidak!. Kadang kita melihat anak muda Minang zaman sekarang terhanyut dengan nama besar saja yang telah dirintis oleh pendahulunya, tetapi tidak bisa melanjutkan kiprah mereka. Mengaku seniman tapi tidak punya karya!. Dan kalaupun berkarya itu dilakukan hanya pada saat-saat akan ada pameran saja. Sedangkan Syamsulbahar menganggap kalau melukis itu adalah ibadah, dan rasa syukur kepada sang Khaliq.

Dari rentang perbedaan generasi Syamsulbahar hingga sekarang sekitar 70 tahun, dapatkan kita menarik benang merah antara generasi pendahulu kita dengan generasi sekarang? Disini kita membaca terdapat lompatan sejarah yang masih belum terlacak keberadaannya secara konseptual, karena kemungkinan masih banyak lagi pelaku sejarah seni rupa Sumbar yang belum terdata sampai saat ini. Sangat riskan sekali memang, ketika orang-orang berbondong-bondong mengadakan riset tentang budaya yang memperlihatkan kesinambungan regenerasi, tetapi Sumbar belum mempunyai catatan yang kongkrit tentang kesenirupaannya. Disini terdapat kejala kerapuhan budaya seperti yang di ungkapkan oleh Suwarno Wisetrotomo: akibat tidak adanya kemampuan pada masyarakat setempat untuk melakukan revitalisasi, melakukan tranformasi kultural, intelektual, estetik, artistik, dari generasi masa lampau ke generasi masa kini. Dalam seni rupa terjadi lompatan yang begitu jauh antara generasi Syamsulbahar, Wakidi, Oesman Effendi, Zaini dengan generasi baru masa kini. (baik yang tumbuh dan tinggal di Sumatera Barat maupun yang di Jawa khususnya).Lompatan yang semacam itu belum terbaca dan dimaknai secara kontekstual, sehingga tidak terjadi mobilitas pemahaman antar generasi. Lompatan bisa disikapi sebagai aset dan peluang.

Untuk menyikapi hal tersebut diatas sangat perlu sekali kiranya suatu badan yang mewadahi pembuatan buku yang berkaitan dengan rangkaian mendata kembali sejarah seni rupa Sumbar. Serta wadah yang menyimpan aset seni rupa Sumbar mulai dari pendahulu kita sampai generasi sekarang ini. Di luar Sumbar generasi muda Minang seperti kelompok Jendela di Yogya menjadi patron seni rupa Indonesia saat ini, bahkan salah satu putra daerah kita Handiwirman dijadikan "tokoh 2004"? oleh majalah TEMPO. Dan mungkin untuk kalangan generasi muda di Sumbar mereka tidak tau siapa itu Handiwirman, Rudi Mantovani, Yunizar, Alfi dan lainnya. Padahal nama mereka dalam kancah seni rupa

saat ini menjadi perbincangan. Karya-karya mereka dengan greget baru menepis aroma keminangannyan mengapa demikian? Apakah lingkungan atau medan seni setempat berpengaruh penting dalam mendorong mereka dalam bereksplorasi dalam penciptaan karya-karyanya? Tentu saja hal tersebut ikut membangun inspirasi mereka dalam menyampaikan media ungkap menjadi sebuah karya seni dengan kecitraan yang berbeda.

Sumatera Barat perlu bersaing dengan daerah-daerah lain dalam pencarian identitasnya dan mengangkat budaya lokal sehingga dapat menjadi tuan rumah dinegerinya sendiri. Yang perlu dilakukan adalah "membaca"? gejala yang terjadi di Sumbar, tokoh-tokoh yang terlibat didalamnya, karya-karyanya,dan peristiwa sebagai rekonstuksi sejarah dalam konteks waktu dan peristiwa. Dari data tersebut nanti dapat terlihat bagaimana konsribusi setiap tokoh dalam kesenian/ seni rupa Sumbar dan/atau seni rupa Indonesia. Pemahaman seperti diatas perlu dilakukan untuk melakukan kompetisi, posisi dan membangun identitas. Selama ini mungkin kita belum optimal mengelola aset yang ada di Sumbar. Mungkin dengan adanya komparasi kultural dapat membangun jejaring yang lebih baik lagi. Sehingga medan seni yang terbangun dapat lebih dikembangkan lagi sehingga dapat lebih melebar mobilitas spiralnya.

Pada saat sekarang mungkin telah terjadi pergeseran dari kecenderungan lukisan yang dulunya menjadikan pemandanagn ngarai sianok, atau lembah arau sebagai lukisan wajib, saat sekarang apakah generasi muda Minang dalam menciptakan karyanya tidak lagi berpijak kepada hal tersebut. Adakah perbedaan antara karya-karya para perupa yang tumbuh dan tinggal di Sumbar dengan karya-karaya perupa yang tinggal di Jawa? Generasi Syamsulbahar memuja dan mengabdikan alam semesta dengan takzim. Itulah salah satu mengucapkan puji syukur kepada kebesaran Allah. Sementara pada generasi Handiwirman terdapat spirit yang begitu besar untuk memperluas kemungkinan bahasa ekspresi, yang kesemuanya itu terletak pada "kenikmatan"? mereka dalam menangkap, membaca, mengutip, mengolah, menyusun dan menyajikannya dalam bentuk karya seni. Karya seni dihadapkan pada berbagai kemungkinan "fungsi"? ekspresi pribadi, catatan dan kesaksian sosial, moral, politik, yang akan dimediasikan kepada publik yang lebih luas, termasuk eksplorasi material dan tehnik yang sering tak terduga. Proses berkarya menjadi suatu wadah pembelajaran seni mereka dalam bereksperiman dan mengolah bentuk atau simbol-simbol menjadi suatu karya yang diungkapkan kepada khalayak, sehingga dapat menyampaikan pesan dan makna yang tersirat mewakili nurani senimannya.

Zulmi Aryani, M.Pd : alumni SMSR Padang, menyelesaikan pendidikan S1 di Seni Rupa Universitas Negeri Yogyakarta dan S2 di PPs UNP, aktif berkarya dan mengikuti pameran, mengajar privat lukis, disanggar, galery dan juga sebagai dosen luar biasa. Tahun 2003 terpilih sebagai peserta Magang Nusantara Yayasan Kelola dii Selasar Sunaryo Art Space Bandung sebagai Asisten Kurator dan mengikuti workshop Kurator seni rupa di The Japan Foundation Jakarta.

 
Berita Wawasan Seni Lainnya
. Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan
. Putusnya Rantai Sejarah Budaya
. Bentuk, Kreativitas dan Penjelajahan Kemungkinan
. Realis Minimalis Menjadi Trend Karya Pelukis Muda
. Typography-Pendahuluan
. Beowulf: Pahlawan Animasi Senyata Manusia Asli
. Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan
. Bernilainya Seni
. Seniman Antara Idealisme dan Pasar
. Pengertian Seni Secara Umum dan Sejarahnya


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 3

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>     01 02 03 04 05
> 06 07 08 09 10 11 12
> 13 14 15 16 17 18 19
> 20 21 22 23 24 25 26
> 27 28 29 30 31    



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012