Bentuk, Kreativitas dan Penjelajahan Kemungkinan

Oleh Muharyadi
Kamis, 15 Januari 2009 16:23:58 Klik: 4689 Cetak: 568 Kirim-kirim Print version download versi msword
Klik untuk melihat foto lainnya...

Tak seperti seni lukis pertumbuhan dan perkembangan seni patung di Indonesia berjalan lamban ditandai minimnya frekwensi pameran, proses pengerjaan yang memakan waktu, terbatasnya ruang/tempat bekerja, bahan dan alat, hingga berpengaruh terhadap terbatasnya karya yang dihasilkan.  

Namun seni patung dengan jumlah seniman yang bisa dihitung dengan jari tersebut ternyata masih tetap berkarya, pameran dan berkarya lagi bahkan banyak pengamat menilai seni patung Indonesia sejak era tradisional hingga kini tetap menggeliat. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir karya-karya patung menjadi incaran kolektor, galeri dan museum.

Kecuali seni patung Bali, pertumbuhan dan perkembangannya di Indonesia era tahun 1940 an terdapat kesenjangan antara seni patung tradisi dengan seni patung moderen. Gejala awal pertumbuhan seni patung moderen menurut Jim Supangkat, ditandai berbagai perubahan dan penafsiran yang tidak menyambung seni patung tradisional manapun, namun tak bisa lepas dari pengaruh seni patung moderen dunia sebagai rujukannya

Dalam tradisi baru ini tidak segera terbentuk sebuah garis perkembangan. Tetapi setidaknya terdapat tiga gejala awal yang tidak berhubungan satu dengan lainnya. Pertama, akibat percobaan sejumlah pelukis membuat patung sebagai usaha mencari media ekspresi lain. Kedua, pembuatan seni patung melayani kebutuhan monument. Ketiga akibat perkembangan jurusan seni patung di perguruan tinggi seni rupa di tanah air.

Tanda-tanda perkembangan baru lebih terlihat pada kelanjutan gejala ketiga yang diperkirakan terjadi tahun 1940 an. Dalam catatan sejarah pelukis Affandi merupakan perintis percobaan mematung pertama, bahkan Affandi sempat beberapa kali pameran patung di Jakarta. Selain Affanditerdapat Edhi Sunarso, Trubus, Rustamadji, Hendra Gunawan.

Selain estetik, ekspresif dan spontanitas prinsip mematung yang terus bergulir hingga ke Edhi Sunarso era tahun 1960-an dengan sejumlah karya-karya monumentalnya di Jakarta yang mencoba memperkenalkan teknik baru, pengecoran perunggu dan pengembangan teknik guna menghasilkan monumen antara lain “Pembebasan Irian Barat”, “Dirgantara”, “Patung Selamat Datang Jakarta” dan sejumlah karya monumental lain di Indonesia.

Gejala-gejala ini terus berkembang sejalan lahirnya pendidikan seni patung di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) sekarang ISI Yogyakarta dan Departemen Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Inilah sesungguhnya awal kelahiran seni patung moderen di tanah air dengan beberapa tokoh seperti Edhi Sunarso, But Mukhtar, G. Sidharta dan Rita Widagdo dengan mengenal kualitas bentuk tiga dimensional meliputi, gagasan, teknik pengerjaan, idiom bagi ekspresi dan nilai estetik.

Konsep pematung menempatkan ekspresi dan perasaan sebagai perubahan memahami idiom-idiom seni patung. Terdapat nuansa, kemudian berkarya dengan media keras. Ilham, gagasan, imajinasi yang mau tidak mau mengalami transformasi kegagasan bersifat bentuk didasari ilham dan ide.

Kreatvitas dan Penjelajahan Kemungkinan

Sejarah yang tidak bisa diabaikan manakala orang membatasi perihal mematung sebagai percobaan pada awalnya dimana pematung (yang umumya dulu pelukis) mencampurkan citra melukis dengan citra mematung.

Pematung Rita Widagdo merupakan tokoh pendidikan yang membangun kesadaran. Rita menantang unsur perasaan dalam mematung karena ia menciptakan bentuk murni tiga dimensi sebagai bentuk kongkrit. Artinya tidak mencitrakan apa-apa, kecuali kualitas bentuknya. Ia juga mengolah sensasi penglihatan dan rabaan, kepekaan rasa, tekanan dan tegangan guna mencari bahan yang cocok. Kemudan timbul gejala penjelajahan kemungkinan bentuk seni patung baru Indonesia yang sebagai konsekwensinya lahir patung abstrak.

Sedemikian luas cakupan perjalanan seni patung di Indonesia, menyoal dari mana tema yang lahir? Umumnya bersumber dari alam. Alam menjadi guru seniman tak terkecuali pematung. Banyak pematung dunia membenarkan sumber dari alam. Lihatlah misalnya pematung seperti Michelangelo, Phidias, Praxiteles, Trubus dan Hendradjasmara dari Indonesia merupakan beberapa contoh pengagum alam yang mengilhaminya karyanya dengan kecendrungan abstrak.. Di Indonesia hadirnya kesendrungan abstrak menandakan munculnya seni patung moderen. Kecendrungan ini konon berhubugan dengan penyederhanaan bentuk sebagai penjelajahan dalam mencari kemungkinan sebagaii benang merah pertumbuhan dan perkembangan sebelumya.

Kini menyoal trend patung di Sumatera Barat sebagai salah satu basis seni rupa di tanah air, maka pematung yang ada dan kebanyakan memperoleh pendidikan di Yogyakarta dan Bandung secara umum berkarya lebih bersifat situasional saat digelarnya pameran dan pembuatan monumen. Namun sejumlah pamatung yang juga pelukis terlihat bahwa kegiatan mematung lebih merupakan sambilan diluar melukis. Ketimbang Jawa dan Bali, seni patung kalah populer dibanding seni lukis di daerah ini. ***

 
Muharyadi, Pendidik, Kurator dan Jurnalis tinggal di Padang

 
Berita Wawasan Seni Lainnya
. Between Techniques and Instinctive Framing: 9 Windu Jeihan
. Putusnya Rantai Sejarah Budaya
. Realis Minimalis Menjadi Trend Karya Pelukis Muda
. Typography-Pendahuluan
. Beowulf: Pahlawan Animasi Senyata Manusia Asli
. Raden Saleh, Seniman dan Bangsawan
. Bernilainya Seni
. Seniman Antara Idealisme dan Pasar
. Pengertian Seni Secara Umum dan Sejarahnya
. Kritikus Seni Rupa Jembatan Masyarakat?


Tidak ada komentar tentang artikel ini.

Formulir Komentar | Aturan >>

Nama
Email
Judul Komentar
Komentar
Login
Username:

Password:

  Registrasi?
Select One Theme :
Selamat Datang Tamu!
Guest(s)online: 7

No Members are currently logged in.
  Sn Sl Rb Km Jm Sb Mg
>   01 02 03 04 05 06
> 07 08 09 10 11 12 13
> 14 15 16 17 18 19 20
> 21 22 23 24 25 26 27
> 28 29 30 31      



Kegiatan Minggu ini

Tidak ada kegiatan minggu ini


Cari kegiatan...



Kegiatan Hari Ini

Tidak ada kegiatan hari ini
Links Exchange






RSS




Nama*
Email
Pesan*
Code
   *wajib diisi

Arsip Berita
April 2005
Mei 2005 20 
Juni 2005
Juli 2005
Agustus 2005
September 2005 10 
Oktober 2005
Nopember 2005
Desember 2005
Januari 2006
Februari 2006
Maret 2006
April 2006
Mei 2006
Juni 2006 10 
Juli 2006
Oktober 2006
Februari 2007
Maret 2007
April 2007
Mei 2007 10 
Juni 2007
Juli 2007
Agustus 2007
September 2007
Oktober 2007
Nopember 2007
Desember 2007
Januari 2008
Maret 2008
Mei 2008
Juni 2008
Juli 2008
September 2008
Nopember 2008
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
Juni 2009
September 2009
Desember 2009
Januari 2010
April 2010
Mei 2010
Juli 2010
Agustus 2010
September 2010
Juni 2011
Oktober 2011
Nopember 2011
Februari 2012